“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat
kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah
kiri. (Kepada mereka dikatakan), ‘Makanlah olehmu dari rezeki yang
(dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu)
adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun".
Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang
besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi
(pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon
Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran
mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan
hanya kepada orang-orang yang sangat kafir. Dan Kami jadikan antara
mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya,
beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri
itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada
malam dan siang hari dengan aman. Maka mereka berkata: "Ya Tuhan kami
jauhkanlah jarak perjalanan kami", dan mereka menganiaya diri mereka
sendiri; maka Kami jadikan mereka buah mulut dan Kami hancurkan mereka
sehancur-hancurnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi
bersyukur.” (QS Saba’ [34]: 15-19)
Masyarakat Saba’ adalah satu di antara empat peradaban terbe-sar yang
pernah hidup di Arabia Selatan. Kaum ini diperkira-kan berkembang
sekitar tahun 1000-750 SM dan musnah sekitar tahun 550 M, setelah
serangan-serangan selama dua abad dari bangsa Persia dan Arab.
Masa keberadaan peradaban Saba’ banyak diperbincangkan. Kaum Saba’ mulai
mencatat laporan pemerintahannya sekitar 600 SM. Karena itulah tidak
terdapat catatan tentang mereka sebelum tahun tersebut.
Sumber tertua yang menyebutkan tentang kaum Saba’ adalah catatan perang
tahunan yang berasal dari masa raja Asiria Sargon II (722-705 SM). Kala
mencatat bangsa-bangsa yang membayar pajak kepadanya, Sargon juga
menyebutkan raja Saba’, Yith’i-amara (It’amara). Catatan ini meru-pakan
sumber tertulis tertua yang memberikan informasi tentang per-adaban
Saba’. Namun, tidak terlalu tepat untuk menarik kesimpulan bah-wa
kebudayaan Saba’ dibangun sekitar 700 SM hanya berdasarkan data ini,
karena sangat mungkin kaum Saba’ telah ada lama sebelum tercatat dalam
catatan tertulis. Artinya, sejarah Saba’ mungkin lebih awal dari waktu
di atas. Memang, dalam prasasti Arad-Nannar, salah satu raja terakhir
dari negara Ur, digunakan kata “Sabum” yang diperkirakan berarti “negeri
Saba’”.39 Jika kata ini benar-benar berarti Saba’, maka ini berarti
sejarah Saba’ mundur sampai sejauh 2500 SM.
Sumber-sumber sejarah yang menceritakan tentang Saba’ biasanya
menyebutkannya sebagai sebuah kebudayaan, yang seperti bangsa Punisia,
terutama bergerak dalam kegiatan perdagangan. Begitu pula, kaum ini
memiliki dan mengatur sejumlah jalur perdagangan yang melintasi Arabia
Selatan. Agar dapat membawa barang-barangnya ke Laut Tengah dan Gaza,
yang berarti melintasi Arabia Selatan, orang-orang Saba’ harus
mendapatkan izin dari Raja Sargon II, penguasa selu-ruh wilayah
tersebut, atau membayar pajak dengan jumlah tertentu kepa-danya. Begitu
kaum Saba’ mulai membayar pajak kepada kerajaan Asiria, nama mereka
mulai tercatat dalam sejarah negeri ini.
Kaum Saba’ telah dikenal sebagai orang-orang yang beradab dalam sejarah.
Dalam prasasti para penguasa Saba’ sering digunakan kata-kata seperti
“memperbaiki”, “mempersembahkan”, dan “membangun”. Ben-dungan Ma’rib,
yang merupakan salah satu monumen terpenting kaum ini, adalah indikasi
penting dari tingkatan teknologi yang telah diraih oleh kaum ini. Namun,
ini tidak berarti bahwa kekuatan militer Saba’ lemah; bala tentara
Saba’ adalah salah satu faktor terpenting yang menyokong ketahanan
kebudayaan mereka dalam jangka waktu demikian lama tanpa keruntuhan.
Negara Saba’ memiliki salah satu bala tentara terkuat di kawasan
ter-sebut. Negara mampu melakukan politik ekspansi berkat angkatan
ber-senjatanya. Negara Saba’ telah menaklukkan wilayah-wilayah dari
nega-ra Qataban Lama. Negara Saba’ memiliki banyak tanah di benua
Afrika. Selama abad ke-24 SM, selama ekspedisi ke Magrib, tentara Saba’
dengan telak mengalahkan tentara Marcus Aelius Gallus, Gubernur Mesir
untuk Kekaisaran Romawi yang jelas-jelas merupakan negara terkuat pada
ma-sa itu. Saba’ dapatlah digambarkan sebagai sebuah negara yang
menerap-kan kebijakan moderat, namun tidak ragu-ragu menggunakan
kekuatan jika diperlukan. Dengan kebudayaan dan militernya yang maju,
negara Saba’ jelas merupakan salah satu “adi daya” di daerah tersebut
kala itu.
Angkatan bersenjata Saba’ yang luar biasa kuat ini juga digambarkan di
dalam Al Quran. Sebuah ungkapan dari para komandan tentara Saba’ yang
diceritakan dalam Al Quran menunjukkan besarnya rasa percaya diri yang
dimiliki oleh bala tentara ini. Para komandan berkata kepada sang ratu:
”Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memi-liki
keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan ber-ada di
tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan.” (QS.
An-Naml, 27: 33) !
Ibu kota negara Saba’ adalah Ma’rib yang sangat makmur berkat letak
geografisnya yang sangat menguntungkan. Ibu kota ini sangat dekat
de-ngan Sungai Adhanah. Titik di mana sungai mencapai Jabal Balaq sangat
tepat untuk membangun sebuah bendungan. Dengan memanfaatkan keadaan
ini, kaum Saba’ membangun sebuah bendungan di sana, ketika peradaban
mereka pertama kali berdiri, dan memulai sistem pengairan mereka. Mereka
benar-benar mencapai tingkat kemakmuran yang sangat tinggi. Ibu kota
Ma’rib, adalah salah satu kota termaju saat itu. Penulis Yunani Pliny
yang telah mengunjungi daerah ini dan sangat memujinya, juga menyebutkan
betapa hijaunya kawasan ini.40
Bendungan di Ma’rib tingginya 16 meter, lebarnya 60 meter dan
pan-jangnya 620 meter. Berdasarkan perhitungan, total wilayah yang dapat
diairi oleh bendungan ini adalah 9.600 hektar, dengan 5.300 hektar
terma-suk dataran bagian selatan dan sisanya termasuk dataran sebelah
barat. Dua dataran ini disebutkan sebagai “Ma’rib dan dua dataran“ dalam
prasasti Saba’.41 Ungkapan dalam Al Quran, “dua buah kebun di sisi kiri
dan kanan“, menunjukkan kebun-kebun dan kebun anggur yang menge-sankan
di kedua lembah ini. Berkat bendungan ini dan sistem pengairan-nya,
daerah ini menjadi terkenal sebagai kawasan berpengairan terbaik dan
paling menghasilkan di Yaman. J. Holevy dari Prancis dan Glaser dari
Austria membuktikan dari berbagai dokumen tertulis bahwa bendungan
Ma’rib telah ada sejak zaman kuno. Dalam dokumen-dokumen yang tertulis
dalam dialek Himer, disebutkan bahwa bendungan ini membuat kawasan
tersebut sangat produktif.
Bendungan ini diperbaiki secara besar-besaran selama abad 5 dan 6 M.
Namun demikian, perbaikan-perbaikan ini tidak mampu mencegah bendungan
ini dari keruntuhan pada tahun 542 M. Runtuhnya ben-dungan tersebut
mengakibatkan “banjir besar Arim” yang disebutkan da-lam Al Quran serta
mengakibatkan kerusakan hebat. Kebun-kebun anggur, kebun-kebun, serta
ladang-ladang pertanian kaum Saba‘’yang telah mereka tanami selama
ratusan tahun hancur seluruhnya. Diketahui juga bahwa kaum Saba’ segera
mengalami masa resesi setelah kehancur-an bendungan tersebut.
Berakhirlah negara Saba’pada ujung periode yang diawali oleh hancurnya
bendungan tersebut.
Banjir Arim yang Dikirim kepada Negeri Saba’
Ketika kita kaji Al Quran dengan kelengkapan data sejarah di atas, maka
kita akan mengamati bahwa ada kesamaan yang sangat mendasar dalam hal
ini. Keduanya, temuan arkeologis dan data sejarah membenar-kan apa yang
dicatat dalam Al Quran. Sebagaimana disebutkan dalam ayat tersebut, kaum
ini, yang tidak mendengarkan peringatan dari nabi mereka dan tanpa rasa
syukur telah menolak keimanan, akhirnya dihu-kum dengan banjir yang
mengerikan. Banjir ini digambarkan dalam Al Quran dalam ayat-ayat
sebagai berikut :
“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat
kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan kiri, (kepada
mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan)
Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang
baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. Tetapi mereka
berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami
ganti kedua kebun-kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi
(pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon
Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena ke-kafiran
mereka. Dan kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan
hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” (QS Saba’, 34: 15-17). !
Sebagaimana ditekankan dalam ayat-ayat diatas, kaum Saba’ yang hidup di
suatu daerah yang diberkahi dengan kebun-kebun dan kebun-kebun anggur
yang subur dan luar biasa indah. Karena terletak di jalur perdagangan,
negeri Saba’ memiliki standar kehidupan yang sangat tinggi dan menjadi
salah satu kota yang disukai pada masa itu.
Di sebuah negeri dengan standar kehidupan dan keadaan yang sa-ngat
bagus, yang seharusnya dilakukan oleh Kaum Saba’ adalah “Makan-lah
olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu
kepada-Nya” sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas. Namun, mereka
tidak melakukannya. Mereka memilih untuk mengklaim kemakmuran itu
sebagai milik mereka. Mereka menganggap negeri itu adalah milik mereka
sendiri, bahwa merekalah yang menjadikan semua keadaan yang luar biasa
tersebut ada. Mereka memilih untuk menjadi sombong bukan-nya bersyukur,
dan dalam ungkapan ayat tersebut, mereka “berpaling dari Allah”…
Karena mereka mengaku-aku bahwa semua kekayaan adalah milik mereka, maka mereka pun kehilangan semua yang mereka miliki.
Di dalam Al Quran, azab yang dikirimkan kepada kaum Saba’ dina-makan
“Sail Al Arim” yang berarti “banjir Arim”. Ungkapan yang di-gunakan
dalam Al Quran ini juga menceritakan kepada kita bagaimana bencana ini
terjadi. Kata “Arim” berarti bendungan atau rintangan. Ungkapan “Sail
Al-Arim” menggambarkan banjir yang datang dengan runtuhnya bendungan
ini. Para pengamat Islam telah menetapkan waktu dan tempat kejadian
dengan dipandu ungkapan yang digunakan dalam Al Quran tentang banjir
Arim. Maududi menulis dalam komentarnya:
Sebagaimana digunakan pula dalam ungkapan Sail Al Arim, kata “Arim”
diturunkan dari kata “arimen” yang digunakan dalam dialek Arab Selatan
yang berarti “bendungan, rintangan”. Dalam reruntuhan yang terungkap
dalam penggalian yang dilakukan di Yaman, kata tersebut tampaknya sering
digunakan dalam pengertian ini. Misalnya, dalam prasasti yang dipesan
oleh Ebrehe (Abrahah), raja Yaman Habesh, setelah perbaikan dinding
Ma’rib yang besar pada tahun 542 dan 543 M, kata ini berkali-kali
digunakan untuk mengartikan bendungan. Jadi, ungkapan sail al-Arim
berarti “sebuah ben-cana banjir yang terjadi setelah runtuhnya sebuah
bendungan.”
“Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi
(pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon
Sidr.” (QS. Saba’, 34: 16). Yakni, setelah runtuhnya dinding bendungan,
seluruh negeri digenangi banjir. Saluran-saluran yang telah digali oleh
kaum Saba’ serta dinding yang telah didirikan dengan membangun perintang
di antara gunung-gunung tersebut runtuh, dan sistem pengairan pun
hancur be-rantakan. Akibatnya, kawasan yang seperti kebun tersebut
berubah menjadi hutan. Tidak ada lagi buah yang tersisa kecuali buah
seperti ceri dari pepohonan kecil bertunggul. 42
Werner Keller, seorang ahli arkeologi Kristen penulis buku Und die Bible
Hat Doch Recht (Alkitab Terbukti Benar), setuju bahwa banjir Arim
terjadi sebagaimana digambarkan dalam Al Quran dan menulis bahwa
keberadaan bendungan semacam itu dan kehancuran seluruh negeri ka-rena
keruntuhannya membuktikan bahwa contoh yang diberikan dalam Al Quran
tentang kaum pemilik kebun-kebun tersebut adalah benar adanya .43
Setelah bencana banjir Arim, daerah tersebut mulai berubah menjadi
padang pasir dan kaum Saba’ kehilangan sumber pendapatan mereka yang
terpenting dengan hilangnya lahan pertanian mereka. Kaum terse-but, yang
tidak mengindahkan seruan Allah untuk beriman dan ber-syukur
kepada-Nya, akhirnya diazab dengan sebuah bencana seperti ini. Setelah
kehancuran besar yang disebabkan oleh banjir, kaum tersebut mulai
terpecah-belah. Kaum Saba’ mulai meninggalkan rumah-rumah mereka dan
berpindah ke Arab Selatan, Makkah, dan Syria. 44
Karena banjir tersebut terjadi setelah penyusunan Perjanjian Lama dan
Perjanjian Baru, peristiwa ini hanya disebutkan di dalam Al Quran.
Kota Ma’rib yang pernah dihuni oleh Kaum Saba’, namun sekarang hanyalah
reruntuhan yang terpencil, tidak diragukan lagi merupakan peringatan
bagi mereka yang mengulangi kesalahan yang sama sebagai-mana kaum Saba’.
Kaum Saba’ bukanlah satu-satunya kaum yang di-hancurkan oleh banjir.
Dalam Al Quran surat Al Kahfi diceritakan kisah dua pemilik kebun. Salah
satunya memiliki kebun yang sangat mengesankan dan menghasilkan seperti
yang dimiliki oleh kaum Saba’. Namun, ia pun melakukan kesalahan serupa
sebagaimana mereka: ber-paling dari Allah. Ia mengira anugerah yang
dilimpahkan kepadanya “dimilikinya” sendiri, yakni ialah penyebab semua
itu:
“Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki,
kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun
anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma dan
di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang. Kedua buah kebun itu
menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikit pun,
dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu, dan dia
mempunyai kekayaan yang besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang
mukmin) ketika ia ber-cakap-cakap dengan dia: “Hartaku lebih banyak dari
hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat.” Dan dia memasuki kebunnya
se-dang dia zalim kepada dirinya sendiri; Ia berkata: ”Aku kira kebun
ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira hari kiamat
itu akan datang, dan jika sekiranya aku dikembalikan kepa-da Tuhanku,
pasti aku akan mendapat kembali tempat yang lebih baik daripada
kebun-kebun itu”. Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya sedang dia
bercakap-cakap dengannya: “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang
menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia
menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?. Tetapi aku (percaya
bahwa): Dialah Allah, Tuhan-ku dan aku tidak mempersekutukan seorang pun
dengan Tuhanku. Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki
ke-bunmu “Masya Allah – tidak ada kekuatan kecuali dengan (perto-longan)
Allah?”. Jika kamu anggap aku lebih kurang daripada kamu dalam hal
harta dan anak, maka mudah-mudahan Tuhanku akan memberi kepadaku (kebun)
yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia
mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebun-kebunmu, hingga
(kebun itu) men-jadi tanah yang licin; atau airnya menjadi surut ke
dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi”. Dan
harta kekayaannya dibinasakan, lalu ia membolak-balikkan kedua tangannya
(tanda menyesal) terhadap biaya yang telah dibelan-jakannya untuk itu,
sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata:
“Aduhai kiranya dahulu aku tidak mem-persekutukan seorang pun dengan
Tuhanku”. Dan tidak ada bagi dia segolongan pun yang akan menolongnya
selain Allah; dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya. Di sana
pertolongan itu hanya dari Allah Yang Hak. Dia adalah sebaik-baik
Pemberi Pahala dan sebaik-baik Pemberi Balasan.” (QS. Al Kahfi, 18:
32-44). !
Sebagaimana dapat dipahami dari ayat-ayat ini, kesalahan yang di-lakukan
oleh pemilik kebun bukanlah mengingkari keberadaan Allah. Ia tidak
mengingkari keberadaan Allah, sebaliknya ia mengira bahwa “meskipun jika
dikembalikan kepada Tuhannya” ia tentu akan menda-patkan balasan yang
lebih baik. Ia meyakini bahwa keadaan yang diala-minya, hanyalah
disebabkan oleh usaha-usahanya sendiri yang sukses.
Sebenarnya, ini persis maknanya dengan mempersekutukan Allah: mencoba
untuk mengaku-aku atas segala sesuatu milik Allah dan hilang-nya rasa
takut seseorang kepada Allah karena menganggap bahwa sese-orang memiliki
keagungan tertentu dari dirinya sendiri, dan Allah bagai-manapun akan
“menunjukkan kemurahan” pada seseorang.
Inilah yang juga dilakukan oleh kaum Saba’, hukuman mereka adalah sama –
semua daerah kekuasaannya hancur – sehingga mereka dapat memahami bahwa
mereka bukanlah “pemilik “ kekuatan tetapi kekuatan itu hanyalah
“dikaruniakan” kepada mereka….
Prasasti yang tertulis dalam bahasa bangsa Saba‘.
Dengan Bendungan Ma’rib yang telah mereka bangun dengan teknologi yang
sangat maju, kaum Saba‘ memiliki sistem pengairan berkapasitas besar.
Lalu, tanah subur yang mereka peroleh dan penguasaan mereka atas jalur
perdagangan memungkinkan mereka memiliki gaya hidup yang luar biasa dan
mewah. Namun, mereka kemudian “berpaling” dari Allah, padahal kepada-Nya
mereka seharusnya bersyukur atas semua kemurahan itu. Karenanya,
bendungan mereka pun runtuh dan “banjir Arim” menghancurkan semua
pencapaian mereka.
Saat ini, bendungan kaum Saba‘ yang terkenal kembali menjadi fasilitas pengairan.
Bendungan Ma’rib yang tampak sebagai reruntuhan di atas adalah salah
satu karya terpenting dari kaum Saba‘. Bendungan ini runtuh dikarenakan
banjir Arim yang disebutkan dalam Al Quran dan semua daerah pertaniannya
tergenang. Karena wilayahnya hancur dengan runtuhnya bendungan, negara
Saba‘ kehilangan kekuatan ekonominya dalam waktu yang sangat singkat dan
segera runtuh.
Al Quran menceritakan kepada kita bahwa Ratu Saba’ dan kaumnya
“menyembah matahari selain menyembah Allah” sebelum ia mengikuti
Sulaiman. Informasi dari berbagai prasasti membenarkan kenyataan ini dan
menunjukkan bahwa mereka menyembah matahari dan bulan dalam kuil-kuil
mereka, salah satunya tampak pada gambar di atas. Dalam pilar-pilar,
terdapat prasasti yang tertulis dalam bahasa Saba‘.
Sumber:
http://elcarradian.blogspot.com/2013/01/pelajaran-dari-negeri-saba.html
Islam mengajarkan kita selalu mengingat kematian, agar kita menyadari bahwa setiap awal pasti ada akhir
Lelaki Sejati

01. mari bahas tentang lelaki | ada yang baik hati | namun ada yang tak tahu diri
02. lelaki sejati itu menjadi mapan karena masa depan jadi tujuan | karenanya tiada habiskan waktu untuk perkara kesia-siaan
03. lelaki sejati persiapkan diri lalu datangi wali | bukan berkoar tanpa bukti kesana kemari merayu putri
04. lelaki tahu diri menjaga hati dengan menjaga lisan | tak suka tebar janji dan berlaku berlebihan
05. lelaki sejati datang dengan amunisi meyakinkan calon mertua | bukan datang dengan tangan kosong dan omong kosong belaka
06. lelaki serius pahami ciri dewasa adalah bisa meyakinkan wali | bila dia belum mampu maka dia mundur dan kembali dewasakan diri
07. lelaki sejati takkan umbar janji, tak buat janji yang sulit ditepati | karena bakal bekaskan sakit hati, yang pasti sulit diobati
08. lelaki bertanggung jawab akan siapkan diri baru datangi wali | bukan melamar baru bersiap diri
09. lelaki yang terencana tahu persis wanita seperti apa yang dia perlukan | karenanya tak perlu pacaran dengan alasan perkenalan
10. lelaki sebenar lelaki akan merasa sangat malu | bila ia inginkan wanita namun belum lagi cukup ilmu
11. lelaki disiplin melatih diri di Masjid | menguatkan diri dengan sujud | dan cita-citanya syahid
12. lelaki yang setia jaga pandangan sebelum menikah | setelah menikah ia juga jaga pandangan karena Allah
13. lelaki sejati besar perhatiannya pasti pada Al-Qur'an | dia tahu tanpa Al-Qur'an tiada punya petunjuk mengemudi bahtera kehidupan
14. lelaki peduli akan perhatian pada ummat dengan dakwah | bila dengan ummat dia peduli tentu juga dengan keluarga
15. lelaki baik pahami bila sebelum menikah dia bermaksiat | setelah menikah ada alasan yang lebih banyak untuk khianat
16. lelaki sejati ucapannya jadi pegangan, perbuatannya jadi tuntunan | semuanya disesuaikan dengan Nabi dan Al-Qur'an
17. sayangnya | mempersiapkan diri menjadi lelaki sejati dan pacaran tiada bisa disambi | karenanya lelaki sejati TIDAK pacaran
Sumber:
http://elcarradian.blogspot.com/2013/01/lelaki-sejati.htmlIndahnya Cinta Karena Allah :)
01. cinta seringkali datang dari hal-hal sederhana bukan mewah | seperti kaus kaki yang kau kenakan saat gerimis di tengah sawah
02. saat engkau tunjukkan pekerti yang memikat hati | cerminkan kehormatan diri dan taatmu jadi jaminan hari nanti
03. walau jilbabmu terbasah lumpur yang menggenang | jangan tanya kaus kaki yang kotor bukan kepalang
04. namun engkau tetap tenang tak bergeming | memikirkan taatmu pada siapa? itu yang buat merinding
05. tanpa kusadari ada rasa haru menelisik masuk | romantisme manapun tidak ada saingan bagi takjub yang merasuk
06. namamu pun aku tak tahu, tapi yang tersebut justru nama Tuhan-mu | "subhanAllah yang telah menciptakan Muslimah taat semisalmu"
07. karena taat pada Allah maka seorang Muslimah layak dinikahi | sebab mendidik anak yang menyembah Allah perlukan iman yang sejati
08. cinta itu membutakan, cinta karena Allah lebih tak peduli | urusan apa asal etnis dan kekayaan, bila sudah taat Allah apa lagi dicari?
09. kukirimkan sepucuk surat padamu, isinya permintaan pernikahan | karena Allah sudah menjaminmu, tiada kuperlukan pacaran
10. tak perlu lagi berkenalan, karena kauskaki kotor sudah jadi saksi | jika perintah Allah engkau dengarkan, begitu juga kelak pinta suami
11. engkau balas surat dengan kata "engkau belum mengenalku" | aku memang belum mengenalmu, tapi yang kutahu lebih dari cukup bagiku
12. pantang menyia-nyiakan Muslimah yang taat Allah | di rumah tangga kelak yang begini yang mengundang berkah
13. kaus kaki kotor berbicara lebih banyak daripada lisan | memberitahu lebih banyak dari kebohongan bertopeng pacaran
14. adakala kejujuran lebih mudah dilihat dari perbuatan | namun pacaran sudah pasti mensyaratkan kebohongan
15. kaus kaki memang tak bisa bicara, namun ia tiada berdusta | beda dengan pacaran yang katanya cinta, namun minta pemuas nafsu nista
16. ingatkah engkau tentang pasangan aktivis-pacaran yang menuding | bahwa pernikahan kita tak didahului pacaran karenanya tak langgeng?
17. tahun demi tahun tanganmu tetap kugenggam hingga hari ini | sementara yang berpacar tiada menikah dengan alasan itu dan ini
18. tidak salahlah aku memilihmu, berbekal telaah kaus kaki | hatimu mudah menerima nasihat, asalkan ada hadits dan ayat
19. tiada salah aku menunda kenikmatan masa muda | karena sekarangpun aku pun tak ingat lagi -dan tak peduli- pernah muda
20. sabar menanti yang halal akan berakhir satu saat nanti | namun nikmat bersama yang tak halal akan jadi penyesalan nanti
21. dulu aku berusaha jadi ksatria, tidak memenuhi kepalamu dengan janji | komitmenku adalah akad nikah, ucapan sayang masih banyak masa
22. sekarang akupun tetap ksatria, mencari bagimu hanya yang halal | berucap padamu hanya yang baik, dan mengajarmu hanya yang benar
23. dan ksatria itu adalah menikahi, atau sudahi | bukan memulai yang tak bisa diselesaikan dengan menikahi
24. jelas bukan ksatria yang mengucapkan cinta, sayang | sedang bertemu wali dan tentukan tanggal saja banyak alasan
25. bila betul niatmu mencintai karena Allah | maka menikah itu pahala bagimu, bila belum siap dan berpisah itupun pahala bagimu
26. didik dirimu dengan Al-Qur'an, latih dirimu bergerak dalam dakwah Islam | itu jaminan hari tua, engkau bersama dengan orang yang benar
27. hormati dirimu, muliakan kehormatanmu | berikan pada lelaki yang siap mengambilnya dengan menikahimu, bukan menjanjikan harapan palsu
28. tutupi auratmu, pakai kaus kakimu | karena lelaki baik akan menundukkan pandangan, karenanya akan melihat kebawah kakimu :D
Sumber:
http://elcarradian.blogspot.com/2012/12/kultwit-ustadz-felix-siauw-indahnya.html
Buah Hati
BUAH HATI
Oleh : Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc
*NIKMAT KETURUNAN
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَةَ
اللهِ عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ
السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ
“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah
kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rizki
kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada sesembahan (yang berhak
disembah) kecuali Dia; maka mengapa kalian berpaling?” (Fathir: 3)
Dari sekian nikmat Allah Subhanahu wa
Ta’ala yang wajib untuk disyukuri ialah adanya anak di tengah keluarga.
Merupakan idaman, harapan dan dambaan bagi yang telah berkeluarga,
adanya anak yang dapat menjadi penghibur bagi keduanya. Selain itu,
terbetik harapan agar ia menjadi anak yang taat kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lagi berbakti
kepada orangtua, serta menjadi anak yang baik lagi beragama.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan
manusia melalui sebab adanya orangtua. Karena itulah Allah agungkan hak
kedua orangtua atas anaknya (yaitu kewajiban yang harus ditunaikan oleh
seorang anak kepada kedua orangtuanya).
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا
“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat baik) kepada kedua orangtuanya.” (Al-’Ankabut: 8)
Adakah harapan dan dambaan serta
kebanggaan yang lain bagi orangtua yang muslim dan beriman, jika anak
yang lahir darinya dan dididik di atas fitrahnya, selain mendapati
anaknya menjadi anak shalih yang senantiasa mendo'akan orangtuanya, dan
di hari kiamat ia menjadi sebab terangkatnya derajat kedua orangtuanya?
*SAYANGILAH BUAH HATIMU
Anak merupakan amanah ilahi yg wajib
diperhatikan bagi hamba yg mukmin, ia butuh perhatian dan bimbingan,
terkadang ia juga menginginkan bermain dan canda bersama ayah dan bunda.
Sayang banyak orangtua justru menghabiskan waktu utk berbagai urusan diluar rumah.
Dunia anak tak lepas dari canda cerianya,
lari bergurau, tertawa dst... Sayang orangtua tdk sempat
meluangkan waktu utk itu, waktunya terlalu amat berharga utk melakukan
yg itu.
Telah banyak kisah yg terukir sejarah
menceritakan ttg kasih sayang para sahabat kpd anak2 mereka, bahkan Nabi
صلى الله عليه وسلم memberikan perhatian kpd anak2.
Sahabat Mahmud ibn Ar-Rabi berkisah," Aku
masih ingat semburan Nabi صلى الله عليه وسلم yg beliau semburkan di
wajahku". HR Bukhary.
Anas ibn Malik bercerita, Nabi صلى الله
عليه وسلم adalah orang yg paling baik akhlaknya. Aku memiliki saudara
laki2 bernama abu umair. Bila Nabi صلى الله عليه وسلم datang, beliau
menyapa, "Wahai abu umair, apa yg dilakukan burung kecilmu?". Dia biasa
bermain dg burung kecilnya". HR Bukhary.
*DIDIKLAH ANAKMU
Oleh : Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu
(Ditulis Ulang Oleh : Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc)
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا}
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah
dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah
manusia dan batu”. (At-Tahrim: 6)
Seorang ibu, ayah, serta pengajar, akan
ditanya di hadapan Allah tentang pendidikan generasi ini. Apabila mereka
baik dalam mendidik, maka generasi ini akan bahagia dan begitu pula
mereka juga akan bahagia di dunia dan akhirat. Namun, apabila mereka
mengabaikan pendidikan generasi ini, maka generasi ini akan celaka, dan
dosanya akan ditanggung oleh pundak-pundak mereka. Oleh karena itu
dikatakan dalam sebuah hadits,
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَ كُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan pemimpin akan ditanyai tentang kepemimpinannya.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Berita gembira bagimu wahai para pengajar, dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam,
فَوَاللهِ لَيَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ خُمْرِ النَّعَمَ
“Demi Allah, jika Allah menunjuki seseorang lewatmu, ini lebih baik daripada unta-unta merah”
Berita gembira bagi kalian berdua wahai ayah dan ibu, dengan sebuah hadits yang shahih:
اِذَ مَاتَ اْلإِنْسَانُ اِنْقَطَعَ
عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ
بِهِ اَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ
“Apabila seorang manusia meninggal, maka
amalannya terputus kecuali tiga perkara. Shadaqah jariyah, ilmu yang
bermanfaat serta anak shalih yang mendo'akannya.” (HR. Muslim)
Wahai para pengajar, hendaknya engkau memperbaiki dirimu terlebih dahulu.
Kebaikan menurut anak-anak adalah apa-apa
yang engkau lakukan. Sebaliknya, keburukan menurut mereka adalah apa-apa
yang engkau tinggalkan.
Baiknya perilaku pengajar dan kedua orangtua di hadapan anak-anak merupakan sebaik–baiknya pendidikan bagi mereka.
*AJARI ANAKMU SHOLAT
Pendidikan anak yang sangat ditekankan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah membaguskan semangat
anak untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Anak dihasung
untuk senantiasa melatih diri beribadah. Hingga pada masanya, anak
tumbuh dewasa, dirinya telah memiliki kesadaran tinggi dalam menunaikan
kewajiban ibadah.
Di antara perintah yang mengharuskan anak
dididik untuk menunaikan yang wajib, seperti hadits dari ‘Amr bin
Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dia berkata: Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ
أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ
عَشْرِ سِنِيْنَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ
“Suruhlah anak-anak kalian menunaikan
shalat kala mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (bila
meninggalkan shalat) kala usia mereka sepuluh tahun, dan pisahkanlah
tempat tidur mereka.” (Sunan Abi Dawud no. 495. Asy-Syaikh Al-Muhammad
Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu menyatakan hadits ini hasan shahih)
Yang dimaksud menyuruh anak-anak, meliputi
anak laki-laki dan perempuan. Mereka hendaknya dididik bisa menegakkan
shalat dengan memahami syarat-syarat dan rukun-rukunnya. Jika hingga
usia sepuluh tahun tak juga mau menegakkan shalat, maka pukullah dengan
pukulan yang tidak keras dan tidak meninggalkan bekas, serta tidak
diperkenankan memukul wajah. (Lihat ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud,
2/114)
Untuk mengarahkan anak tekun dalam
beribadah memerlukan pola yang mendukung ke arah hal tersebut. Seperti,
diperlukan keteladanan dari orangtua dan orang-orang di sekitar anak.
Perilaku orangtua yang ‘berbicara’ itu lebih ampuh dari lisan yang
berbicara. Anak akan melakukan proses imitasi (meniru) dari apa yang
diperbuat orangtuanya.
Syari'at pun sangat tidak membuka peluang
terhadap orang yang hanya bisa berbicara (menyuruh) namun dirinya tidak
melakukan apa yg dikatakannya.
Kamis, 29 Agustus 2013 , 06:17:14
Oleh : Redaksi Salam Dakwah
Sumber:
http://salamdakwah.com/baca-artikel/buah-hati.html
Biografi Al-Imam Asy-Syafi-i RahimahullahÂ
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ
"Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya maka Allah akan menjadikannya faqih/faham tentang agama" (HR Al-Bukhari)
Dan diantara keagungan agama ini Allah telah menjadikan adanya para
imam yang memikul ilmu agama, yang menjelaskan kepada umat tentang
urusan agama. Merekalah cahaya yang menerangi jalan menuju
kebaikan…merekalah yang sangat dibutuhkan oleh orang yang menghadapi
kebingungan dalam urusan agama mereka…, merekalah penyejuk hati bagi
orang yang menghadapi problematika kehidupan dan berusaha mencari solusi
agamis…, merekalah para pejuang yang memerangi jalan-jalan kesesatan
yang selalu siap menyimpangkan umat ini…, merekalah yang Allah
perintahkan umat agar bertanya kepada mereka dalam firmanNya :
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ
"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan/ilmu jika kamu tidak mengetahui" (QS An-Nahl : 43)
Banyak para imam umat ini yang kita banggakan, akan tetapi diantara
mereka ada 4 imam yang tersohor, yaitu para pendiri 4 madzhab. Mereka
itu adalah Al-Imam Abu Hanifah, Al-Imam Malik bin Anas, Al-Imam
Asy-Syaf'i dan Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahumullah.
Meskipun ada madzhab-madzhab fikih yang lain akan tetapi keempat
madzhab inilah yang diterima secara luas dalam dunia Islam hingga saat
ini. Bahkan sebagian negeri dikenal dengan madzhab tertentu. Madzhab
Syafi'i banyak tersebar di negara-negara Asia tenggara, madzhab Maliki
banyak tersebar di negeri-negeri Afrika, madzhab Hanafi banyak tersebar
di India, Pakistan, Bangladesh, dan Afghanistan, dan juga di China,
adapun madzhab Hanbali banyak tersebar di negeri-negeri Arab, khususnya
Arab Saudi.
Diantara keempat imam tersebut yang sangat cemerlang
adalah Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah, beliaulah pendiri dan pemrakasa
madzhab Syafi'i yang merupakan madzhab yang banyak dianut di bumi
pertiwi nusantara ini.
Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Idris bin Al-'Abbas bin
'Utsman bin Syaafi' bin As-Saaib bin 'Ubaid bin 'Abd Yaziid bin Haasyim
bin Al-Muthollib bin 'Abdi Manaaf, sehingga nasab beliau bermuara kepada
Abdu Manaaf kakek buyut Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Al-Muthollib adalah saudaranya Hasyim ayahnya Abdul Muthholib kakek Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan kepada Syafi' bin As-Saaib ****batan
Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah (lihat Siyar A'laam An-Nubalaa 10/5-6
dan Tobaqoot Asy-Syaafi'iyah Al-Kubro 2/71-72)
Meskipun nenek moyang beliau suku Quraisy di Mekah akan tetapi
beliau tidak lahir di Mekah, karena ayah beliau Idris merantau di
Palestina. Sehingga beliau dilahirkan di Ghozza (Palestina) dan ada yang
mengatakan bahwa beliau lahir di 'Asqolan pada tahun 150 Hijriah, tahun
dimana wafatnya Al-Imam Abu Hanifah An-Nu'man bin Tsaabit Al-Kuufi
rahimahullah, bahkan ada pendapat yang menyatakan di hari wafatnya
Al-Imam Abu Hanifah.
Ayah beliau Idris meninggal dalam keadaan masih muda, hingga
akhirnya Imam Asy-Syafi'i dipelihara oleh ibunya dalam kondisi yatim.
Karena khawatir terhadap anaknya maka sang ibu membawa beliau –yang
masih berumur 2 tahun- ke kampung halaman aslinya yaitu Mekah, sehingga
beliau tumbuh berkembang di Mekah dalam kondisi yatim. Beliau menghafal
Al-Qur'an tatkala berusia 7 tahun, dan menghafal kitab Al-Muwattho'
karya Imam Malik tatkala umur beliau 10 tahun. Ini menunjukkan betapa
cerdasnya Al-Imam Asy-Syafi'i.
Beliaupun belajar dari para ulama Mekah, diantaranya Muslim bin
Kholid Az-Zanji Al-Makky yang telah memberi ijazah kepada Al-Imam
Asy-Syafi'i untuk boleh berfatwa padahal umur beliau masih 15 tahun.
Lalu setelah itu beliau bersafar ke Madinah dan berguru bertahun-tahun
kepada Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah.
Pada tahun 195 H beliau pergi ke Baghdad, dan beliau mengajar di
sana sehingga banyak ulama yang berputar haluan dari madzhab ahli ro'yu
menuju madzhab Syafi'i. di Baghdad beliau banyak menulis buku-buku lama
beliau, setelah itu beliaupun kembali ke Mekah. Pada tahun 198 beliau
kembali lagi ke Baghdad dan menetap di sana selama sebulan lalu beliau
pergi ke Mesir dan menetap di sana meneruskan dakwah beliau hingga
akhirnya beliau sakit bawasir yang menyebabkan beliau meninggal dunia
pada tahu 204 Hijriyah, rahimahullah rahmatan waasi'ah.
Imam Syafi'i adalah seorang sosok yang memiliki banyak keistimewaan, diantaranya :
PERTAMA : Al-Imam Asy-Syafi'i adalah imam dalam lugoh (bahasa).
Beliau telah banyak tinggal bersama Qobilah Hudzal dan menghafalkan
banyak qoshidah (bait-bait sya'ir) mereka, sehingga hal ini sangat
mempengaruhi kekuatan bahasa Arab beliau. Karenanya tidak pernah
ditemukan kesalahan bahasa dari beliau sebagaimana ditemukan dari para
ulama yang lain. Ibnu Hisyaam (penulis siroh Nabi) berkata الشَّافِعِيُّ
حُجَّةٌ فِي اللُّغَةِ "Asy-Syafi'i hujjah dalam bahasa Arab" (Al-Waafi
bil Wafaayaat 19/143).
Adapun kritikan terhadap Al-Imam Asy-Syafi'i dalam masalah bahasa
maka tidak mematahkan keimaman beliau dalam bahasa Arab. Diantara
kritikan tersebut :
- Beliau dikritik karena menyatakan bahwa huruf jar baa'
(الباء) memberikan faedah التَّبْعِيْض "sebagian/parsial". Karenanya
beliau menyatakan bolehnya mengusap sebagian kepala tatkala berwudu
karena Allah berfirman (وَامْسَحُوا بِـرُؤُوْسِكُمْ). Maka beliaupun
diingkari oleh sebagian ulama, mereka menyatakan bahwa huruf baa' tidak
mengandung makna "parsial", dan ini tidak dikenal dalam bahasa Arab, dan
tidak ada ahli bahasa yang menyebutkan bahwa diantara makna-makna yang
dikandung huruf baa' adalah untuk parsial. Akan tetapi kenyataannya
ternyata banyak ahli bahasa yang menetapkan makna ini (huruf baa'
memberi makna faedah parsial) diantaranya adalah Al-Ashma'i dan ulama
Kufiyiin (lihat Al-Bahr Al-Muhiith fi Ushuul Al-Fiqh li Az-Zarkasyi
2/15-16).
Ternyata juga setelah diamati ada bukti yang tegas bahwasanya
Al-Imam Asy-Syafi'i menyatakan bahwa huruf baa' memberi faedah
"parsial". Dan ****batan hal ini kepada Al-Imam Asy-Syafi'i merupakan
kekeliruan sebagaimana dijelaskan oleh Az-Zarkasy (Al-Bahrul Al-Muhiith
(2/15). Bahkan jika kita kembali kepada kitab Al-Umm kita akan dapati
bahwasanya Asy-Syafi'i berkata :
وَدَلَّتْ السُّنَّةُ على أَنْ ليس على الْمَرْءِ مَسْحُ الرَّأْسِ
كُلِّهِ وإذا دَلَّتْ السُّنَّةُ على ذلك فَمَعْنَى الْآيَةِ أَنَّ مَن
مَسَحَ شيئا من رَأْسِهِ أَجْزَأَهُ
"Sunnah menunjukkan bahwasanya tidak wajib bagi seseorang untuk
mengusap seluruh kepalanya, dan jika sunnah telah menunjukkan demikian
maka makna ayat adalah barang siapa yang mengusap sesuatupun dari
kepalanya maka sudah cukup/sah) (lihat Al-Umm 1/26)
Yang dimaksud dengan sunnah oleh Al-Imam Asy-Syafi'i di sini adalah
hadits tentang Nabi yang berwudu dengan mengusap ubun-ubun beliau saja
tatkala beliau memakai sorban.
- Beliau dikritik karena menafsirkan kata "الْعَوْلُ" dalam firman Allah
ذَلِكَ أَدْنَى أَلا تَعُولُوا (٣)
"Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya" (QS An-Nisaa :3).
Beliau tafsirkan dengan "كَثْرَةُ الْعِيَالِ" (banyaknya anak).
Tafsiran Asy-Syafi'i ini diingkari dengan keras oleh Ibnul 'Arobi
yang bermadzhab Maliki, dan menyatakan bahwa tidak ada ahli bahasa yang
berpendapat dengan pendapat Asy-Syafi'i (lihat Ahkaamul Qur'an li Ibnil
'Arobi 1/411). Akan tetapi perkataan Ibnul 'Arobi ini telah dibantah
oleh para ulama. Makna tersebut ternyata telah disebutkan oleh Al-Kisaai
dan Al-Farroo' (lihat Al-Haawi fi Fiqh Asy-Syaafi'i 11/415 dan
Al-Majmuu' Syarh Al-Muhadzab 16/125). Bahkan Al-Qurthubi yang juga
bermadzhab Malikiyah telah membantah perkataan Ibnul 'Arobi dengan
menjelaskan bahwa tafsiran Asy-Syafi'i bukanlah tafsiran yang baru,
telah mendahului beliau dua imam besar yaitu Zaid bin Aslam dan Jaabir
bin Zaid (lihat Tafsiir Al-Qurthubi 5/21-22)
KEDUA : Sya'ir-sya'ir beliau yang istimewa
Al-Imam Asy-Syafi'i tidak banyak menulis sya'ir-sya'ir, akan tetapi
sya'ir-sya'ir beliau sederhana mudah dipahami dan mengandung makna yang
sangat dalam. Meskipun ada sya'ir-sya'ir para ulama bahasa yang lain
yang lebih nampak ketinggian bahasanya dalam sya'ir-sya'ir mereka akan
tetapi ternyata kesohoran sya'ir-sya'ir Asy-Syafi'i lebih besar karena
kandungan makna yang dalam dengan penggunaan kata-kata yang sederhana.
Diantara sya'ir-sya'ir beliau ;
أمَتُّ مَطَامِعي فأرحْتُ نَفْسي ** فإنَّ النَّفسَ ما طَمعَتْ تهونُ
Aku bunuh sifat tamak yang ada pada diriku, maka akupun menenangkan diriku
Karena jiwa kapan ia tamak maka rendahlah jiwa tersebut
وَأَحْيَيْتُ القُنُوع وَكَانَ مَيْتاً ** ففي إحيائهِ عرضٌ مصونُ
Dan aku hidupkan sifat qona'ah pada diriku yang tadinya telah mati….
Maka dengan mengidupkannya harga dirikupun terjaga…
إذا طمعٌ يحلُ بقلبِ عبدٍ ** عَلَتْهُ مَهَانَةٌ وَعَلاَهُ هُونُ
Jika sifat tamak telah menetap di hati seorang hamba….maka ia akan didominasi oleh kehinaan dan dikuasai kerendahan
Beliau berkata :
نَعِيبُ زمانَنا والعيبُ فِيْنا *** وَما لِزَمانِنا عَيْبٌ سِوانا
"Kita mencela zaman kita, padahal celaan itu ada pada diri kita sendiri...
Dan zaman kita tidaklah memiliki aib/celaan kecuali kita sendiri"
Beliau berkata :
لَمَّا عَفَوْتُ وَلَمْ أحْقِدْ عَلَى أحَدٍ ** أَرَحْتُ نَفْسِي مِنْ هَمَّ الْعَدَاوَاتِ
Tatkala aku memaafkan maka akupun tidak membenci seorangpun…
Akupun merilekskan diriku dari kesedihan dan kegelisahan (yang timbul akibat) permusuhan
إنِّي أُحَيِّي عَدُوِّي عنْدَ رُؤْيَتِهِ ** لِأَدْفَعَ الشَّرَّ عَنِّي بِالتَّحِيَّاتِ
Aku memberi salam kepada musuhku tatkala bertemu dengannya…untuk menolak keburukan dariku dengan memberi salam
وأُظْهِرُ الْبِشْرَ لِلإِنْسَانِ أُبْغِضهُ ** كَمَا إنْ قدْ حَشَى قَلْبي مَحَبَّاتِ
Aku menampakkan senyum kepada orang yang aku benci… sebagaimana jika hatiku telah dipenuhi dengan kecintaan
النَّاسُ داءٌ وَدَاءُ النَّاسِ قُرْبُهُمُ ** وَفِي اعْتِزَالِهِمُ قَطْعُ الْمَوَدَّاتِ
Orang-orang adalah penyakit, dan obat mereka adalah dengan
mendekati mereka… dan sikap menjauhi mereka adalah memutuskan tali cinta
kasih
Beliau berkata :
بقَدْرِ الكدِّ تُكتَسَبُ المَعَــالي ....ومَنْ طَلبَ العُلا سَهِـرَ اللّيالي
Ketinggian diraih berdasarkan ukuran kerja keras…
Barang siapa yang ingin meraih puncak maka dia akan begadang
ومَنْ رامَ العُلى مِن ْغَيرِ كَـدٍّ .....أضَاعَ العُمرَ في طَـلَبِ المُحَالِ
Barang siapa yang mengharapkan ketinggian/kemuliaan tanpa rasa letih…
Maka sesungguhnya ia hanya menghabiskan usianya untuk meraih sesuatu yang mustahil…
تَرُومُ العِزَّ ثم تَنامُ لَيـلاً .....يَغُوصُ البَحْرَ مَن طَلَبَ اللآلي
Engkau mengharapkan kejayaan lantas di malam hari hanya tidur aja??
Orang yang yang mencari mutiara harus menyelam di lautan…
Beliau berkata :
إِذَا أَصْبَحْتُ عِنْدِي قُوْتُ يَوْمٍ ... فَخَلِّ الْهَمَّ عَنِّي يَا سَعِيْدُ
Jika di pagi hari dan aku telah memiliki makanan untuk hari ini…
Maka hilangkanlah kegelisahan dariku wahai yang berbahagia
وَلاَ هُتَخْطُرْ مُوْمُ غَدٍ بِبَالِي ... فَإِنَّ غَدًا لَهُ رِزْقٌ جَدِيْدُ
Dan tidaklah keresahan esok hari terbetik di benakku….
Karena sesungguhnya esok hari ada rizki baru yang lain
أُسَلِّمُ إِنْ أَرَادَ اللهُ أَمْراً ... فَأَتْرُكُ مَا أُرِيْدُ لِمَا يُرِيْدُ
Aku pasrah jika Allah menghendaki suatu perkara…
Maka aku biarkan kehendakku menuju kehendakNya
KETIGA : Tegar Di Atas Sunnah dan Memerangi Bid'ah
Al-Imam Asy-Syafi'i digelari dengan نَاصِرُ الْحَدِيْثِ "Penolong
hadits-hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam". Pengagungan beliau
terhadap sunnah-sunnah Nabi sangatlah nampak. Karenanya beliau sering
berdebat dengan ahlul bid'ah dan mematahkan hujjah-hujjah mereka.
Demikian juga di Baghdad adanya sikap mendahulukan ro'yu (pendapat) dari
pada sunnah-sunnah Nabi, sehingga sunnah-sunnah Nabi ditolak dengan
berbagai metode. Al-Imam Asy-Syafi'i datang dan membantah dan mematahkan
pemikiran yang menyimpang tersebut. Akan datang penjelasan yang lebih
dalam tentang bantahan Al-Imam Asy-Syafi'i terhadap ahlul bid'ah.
KEEMPAT : Kharismatik Al-Imam Asy-Syafi'i
Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah memiliki kharismatik dan daya
tarik yang luar biasa, hingga ulama-ulama besar yang ada di Baghdad
tertarik dengan beliau dan belajar kepada beliau. Seperti Al-Imam Ahmad
bin Hanbal dan Abu Tsaur yang masing-masing ternyata memiliki madzhab
tersendiri, akan tetapi mereka belajar kepada Al-Imam Asy-Syafi'i dan
sangat mencintai dan mengagungkan Al-Imam Asy-Syafi'i. Abu Tsaur pernah
ditanya :
"Manakah yang lebih faqih, Asy-Syafi'i ataukah Muhammad bin
Al-Hasan?". Dan Muhammad bin Al-Hasan adalah guru Al-Imam Asy-Syafi'i,
beliau menimba ilmu darinya tatkala beliau menetap di Baghdad.
Akan tetapi apa jawaban Abu Tsaur??. Beliau berkata :
الشافعي أفقه من محمد، وأبي يوسف، وأبي حنيفة، وحماد، وإبراهيم، وعلقمة، والأسود
"Asy-Syafi'i lebih faqih dari pada Muhammad bin Al-Hasan dan juga
Abu Yusuf (Muhamamad bin Al-Hasan dan Abu Yusuf adalah murid senior Abu
Hanifah-pen), dan lebih faqih dari Abu Hanifah, dan juga lebih faqih
dari Hammad (gurunya Abu Hanifah-pen), dan lebih faqih dari Ibrahim
(gurunya Hammad-pen), dan lebih faqih daripada 'Alqomah (gurunya
Ibrahim-pen), dan lebih faqih daripada Al-Aswad (gurunya 'Alqomah)"
(Mukhtashor Taarikh Dimasyq 6/434)
Padahal Abu Tsaur dahulunya mengikuti madzhab Ahlu Ro'yi di Baghdad
sebelum datangnya Al-Imam Asy-Syafi'i. Jawaban Abu Tsaur ini
menunjukkan kecintaan yang sangat dalam kepada Al-Imam Asy-Syafi'i
rahimahullah.
Lihatlah bagaimana cintanya Al-Imam Ahmad kepada gurunya Asy-Syafi'i, sehingga beliau pernah berkata :
سِتَّةٌ أَدْعُوا لَهُمْ سَحراً، أَحَدُهُمْ الشَّافِعِيُّ
"Enam orang yang aku mendoaakan mereka di waktu sahur (sebelum
subuh), salah satunya adalah Asy-Syafi'i" (Taariikh Al-Islaam li
Adz-Dzhabi 14/312)
Al-Imam Ahmad bin Hanbal terlalu sering mendoakan Asy-Syafi'i, sampai-sampai anak beliau Abdullah bertanya kepada beliau :
يَا أَبَةِ، أَيُّ رَجُلٍ كَانَ الشَّافِعِيُّ فَإِنِّي سَمِعْتُكَ تُكْثِرُ مِنَ الدُّعَاءِ لَهُ
"Wahai ayahanda, siapakah Asy-Syafi'i itu, aku mendengarmu banyak mendoakannya?".
Al-Imam Ahmad menjawab :
يَا بُنَيَّ، كَانَ الشَّافِعِيُّ كَالشَّمْسِ لِلدُّنْيَا، وَكَالْعَافِيَةِ لِلنَّاسِ، فَهَل لِهَذَيْنِ مِنْ خَلَفٍ؟
"Wahai putraku, Asy-Syafi'i seperti matahari bagi dunia, seperti
keselamatan bagi manusia, maka apakah ada pengganti bagi kedua
kenikamatan ini?" (Taarikh Al-Islaam 14/312)
Karena ilmu dan dakwah Al-Imam Asy-Syafi'i diterima oleh
masyarakat dan para ulama secara luas maka munculah orang-orang yang
tidak suka kepada beliau. Diantara mereka adalah salah seorang ulama
bermadzhab Maliki yang bernama Asyhub. Tatkala Al-Imam Asy-Syafi'i
datang ke Mesir beliau tidak bertemu dengan murid-murid Imam Malik
kecuali dua orang yaitu Muhammad bin Abdillah bin Abdil Hakim dan
Asyhub.
Muhammad bin Abdillah bin Abdil Hakim berkata :
سَمِعْتُ أَشْهُبَ فِي سُجُوْدِهِ يَدْعُو عَلَى الشَّافِعِي بِالْمَوْتِ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلشَّافِعِي
"Aku mendengar Asyhub dalam sujudnya mendoakan agar Asy-Syafi'i
meninggal. Maka akupun menyebutkan hal tersebut kepada Asy-Syafi'i"
Dalam riwayat yang lain Asyhub berdoa :
اللَّهُمَّ أَمِتِ الشَّافِعِيَّ فَإِنَّكَ إِنْ أَبْقَيْتَهُ اِنْدَرَسَ مَذْهَبُ مَالِكٍ
"Ya Allah matikanlah Asy-Syafi'i, karena kalau Engkau membiarkannya hidup maka akan punah madzhab Imam Malik"
Maka Al-Imam Asy-Syafi'i heran dengan hal ini, lalu ia berkata dengan menyebut sya'ir :
تَمَنَّى رِجَالٌ أَنْ أَمُوْتَ وَإِنْ أَمُتْ فَتِلْكَ سَبِيْلٌ لَسْتُ فِيْهَا بَأَوْحَدِ
Beberapa lelaki berangan-angan kematianku, dan jika akupun mati….
Maka (kematian) itu adalah jalan yang tidak ditempuh oleh aku sendirian…
فَقُلْ لِلَّذِي يَبْغِي خِلاَفَ الَّذِي مَضَى تَزَوَّدْ لِأُخْرَى مِثْلِهَا فَكَأَنْ قَدِ
Maka katakanlah kepada orang yang menginginkan berbedanya apa yang telah berlalu…
Hendaknya engkau berbekal untuk menghadapi kematian yang semisalnya maka seakan-akan ia telah datang…
Maka setelah itu Al-Imam Asy-Syafi'i pun meninggal, dan tidak lama
kemudian sekita 18 hari atau sebulan Asyhub pun meninggal dunia.
(lihat : Taarikh Dimasyq 51/428, Siyar A'laam An-Nubalaa 10/72, Al-Waafi bil Wafayaat 9/165)
KELIMA : Inovasi Spektakuler
Diantara keistimewaan Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah
beliau telah menyusun sebuah kitab istimewa yang berjudul Ar-Risaalah,
yang kitab ini merupakan kitab pertama yang ditulis tentang
kaidah-kaidah ushul fiqh. Beliau menulis buku tersebut atas permintaan
Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah. Beliau menulis surat kepada
Asy-Syafi'i –dan tatkala itu Asy-Syafi'i masih muda belia- agar
Asy-Syafi'i membuat sebuah buku yang mencakup makna-makna Al-Qur'an dan
mencakup ilmu-ilmu hadits, hujjahnya ijmak, serta nasihk dan mansukh
dari Al-Qur'an dan hadits. Maka Al-Imam Asy-Syafi'i lalu menyusun kitab
Ar-Risaalah. Maka Abdurrahman bin Mahdi berkata :
مَا أُصَلِّي صَلاَةً إِلاَّ وَأَنَا أَدْعُو لِلشَّافِعِي فِيْهَا
"Tidaklah aku sholat kecuali aku mendoakan Asy-Syafi'i dalam sholatku tersebut" (Tariikh Baghdaad 2/64-65)
Demikian pula halnya dengan kitab Al-Umm yang disusun oleh Al-Imam
Asy-Syafi'i sebagai kitab fikih yang disusun dengan penyusunan bab-bab
fikih yang luar biasa, sehingga memudahkan para murid beliau untuk
belajar dengan baik. Dengan demikian Al-Imam Asy-Syafi'i telah menyusun
kitab tentang ushul fikih dan juga menyusun kitab tentang penerapan
ushul fikih tersebut dalam kitab fikih beliau yaitu Al-Umm.
Diantara keistimewaan beliau juga adalah beliau telah belajar dari
dua madrosah, madrosah Hadits (yang dalam hal ini diwakili oleh Imam
Malik yang merupakan guru beliau) dan madrosah Ar-Ro'yu (yang dalam hal
ini diwakili oleh Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibaani yang juga
merupakan guru beliau). Maka Al-Imam Asy-Syafi'i menggabungkan kebaikan
dari dua madrosah ini sehingga jadilah madzhab beliau madzhab yang
kokoh.
Senin, 09 September 2013 , 21:07:52
Oleh : Ustadz Firanda Andirja, MA
Sumber:
http://salamdakwah.com/baca-artikel/biografi-al-imam-asy-syafi-i-rahimahullah--.html
Jangan Pernah Merasa Hebat dengan Dunia!
Jangan Pernah Merasa Hebat dengan Dunia!
Apakah pantas seorang manusia merasa hebat..?!
Merasa hebat karena kekayaanmu..
Merasa bangga dengan kecantikan dan ketampananmu..
Merasa lebih baik dari orang lain karena status sosialmu yang high cl****.
Allah saja yang menciptakan Dunia tidak pernah membanggakannya..
Allah berfirman, “Dan tidak kehidupan Dunia melainkan perhiasan yang menipu.” Al-Imran:1
Ingatlah wahai saudaraku! Tidak ada satu pun di Dunia yang patut untuk dibanggakan..
Hanya satu kesempatan yang bisa membuat anda berbangga dengan Dunia..
Yaitu ketika anda mampu menaklukan Dunia demi kebahagian akhirat yang hakiki nan abadi..
Berkata Ibnul Qoyyim,”Setiap kelezatan Dunia yang mendukung
kebahagiaan akhirat adalah kelezatan yang patut untuk dibanggakan dan
disyukuri..
Carilah Dunia yang membuatmu dimuliakan Rabbmu di Akhirat dan melihat wajah-Nya..!
Sungguh kenikmatan terbesar Dunia adalah kenikmatan yang membuatmu
rindu berjumpa dengan-Nya dan merasakan kedahsyatan nikmat melihat
wajah-Nya.. Ad-Da’
Wad Dawa Hal:330
Ya Allah Kami memohon kelezatan melihat wajah-Mu dan kerinduan bertemu dengan-Mu!
Senin, 03 Juni 2013 , 20:19:53
Oleh : Ustadz Djazuli Lc
Sumber:
http://salamdakwah.com/baca-artikel/jangan-pernah-merasa-hebat-dengan-dunia-.html
Langganan:
Postingan
(
Atom
)

