Untukmu Wahai Para Suami

Selasa, 08 Oktober 2013 , 16:01:23
Oleh : Ustadz Ferry Nasution
Wahai para suami, perhatikan beberapa kalimat dibawah ini:
1. Apa yang memberatkanmu-wahai hamba ALLAH untuk tersenyum di hadapan isterimu ketika engkau masuk menemuinya, agar engkau mendapatkan ganjaran dari ALLAH Ta'ala.
2. Apa yang membebanimu untuk bermuka cerah (ceria) ketika engkau menjumpai isteri dan anak-anakmu yang telah menanti dirimu di rumah! Agar engkau mendapatkan pahala.
3. Apa sulitnya apabila engkau masuk ke dalam rumah sambil mengucapkan salam secara sempurna, yaitu : Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh", agar dirimu mendapatkan 30 kebaikan?!
4. Apakah yang menyusahkanmu jika engkau berkata kepada istrimu dengan perkataan yang baik, sehingga dia meridhaimu, sekalipun dalam perkataanmu agak sedikit dipaksakan?!
5. Apakah yang menyusahkanmu wahai para suami, apabila dirimu berdo'a kepada ALLAH, dengan do'a: "Ya ALLAH, perbaikilah istriku dan curahkan keberkahan padanya".
6. Tahukah kamu (wahai para suami) bahwa ucapan yang lembut merupakan shadaqah?!
7. Apa yang memberatkanmu untuk memberikan hadiah (oleh-oleh) untuk isteri dan anak-anakmu, ketika dirimu pulang dari safar?
8. Wahai para suami, luangkanlah waktumu untuk menemani isterimu, anak-anakmu mengajarkan dan membaca Al Qur'an padanya, atau menghadiri majelis-majelis ilmu yang mengajarkan Al Qur'an dan Sunnah menurut pemhaman para sahabat.
9. Tahukah engkau wahai para suami, bahwa bersetubuh akan mendatangkan ganjaran dari ALLAH, sebagaimana Nabi bersabda: Diantara amal perbuatan kalian yang paling utama adalah mendatangi (bersetubuh) yang halal, yaitu dengan isteri-isteri kalian. (Silsilah shahihah: 441)
Semoga memberikan manfaat serta dapat diamalkan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Rujukan: kitab keluarga sakinah oleh Ustadz Yazid Jawas, dengan beberapa tambahan.


Sumber:
 http://salamdakwah.com/baca-artikel/untukmu-wahai-para-suami-----.html

Kultweet Ustad Felix Siauw

  • terus menerus manusia tanpa berpuas mengejar sesuatu yang dia inginkan | hingga terlambat ia sadari bahwa semua itu bukan yang ia perlukan
  • kita menertawakan sesuatu yang kelak akan kita tangisi | mengumpulkan semua yang justru akan membebani
  • kita khawatir pada hal yang belum pasti semisal rezeki | malah merasa aman dengan kematian yang sudah pasti
  • kita perbanyak diri bergantung pada manusia yang akan berakhir | tapi selalu abai pada Dia yang menguasai hari akhir
  • tak pernah merasa cukup adalah kelemahan dan kekuatan manusia | bila itu untuk ibadah beruntunglah kita bila untuk dunia matilah kita
  • mencaci orang lain itu seperti meludah ke langit | tidak mengena kecuali ke wajah sendiri
  • mencaci maki itu tiada ada untungnya | bila cacianmu benar tiada menambah kemuliaanmu | bila cacianmu salah hancurlah kehormatanmu

Doa hari ke 27 Ustad Felix Siauw

Doa hari ke 27 Ustad Felix Siauw 

Embedded image permalink

  1. Doa hari ke-27 | (QS 47:7) | "Tolonglah Agama Allah Niscaya Dia Menolongmu" 
  2. Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu" (QS 47:7)
  3. banyak kaum munafik yang mengolok-olok "Allah perlu pertolongan" dengan ayat ini | mahasuci Allah, segala kekuatan bahkan milik-Nya
  4. manusialah yang lemah dan perlu pertolongan Allah | karenanya Allah memberikan jalan agar kita ditolong-Nya
  5. jalan agar ditolong oleh-Nya adalah mengabdi pada agama-Nya, mendakwahkan agama-Nya | dengan itu kita mengiba pertolongan-Nya
  6. sebagaimana doa kita pada surah Fatihah | "kepada-Mu kami beribadah, (lalu) kepada-Mu kami meminta pertolongan"
  7. beribadahlah secara sempurna kepada Allah maka Allah pasti menolong kita





























Doa hari ke 26 Ustad Felix Siauw

Doa hari ke 26 Ustad Felix Siauw
Embedded image permalink 
  1. Doa hari ke-26 | (QS 17:45) | "Dinding Untuk Hati Orang
  2. Dan bila kamu membaca Al-Quran niscaya Kami adakan antaramu dan yang tidak beriman pada akhirat, dinding yang tertutup" (QS 17:45)
  3. Imam Qatadah dan Ibnu Zaid berkata "itulah penutup diatas hati mereka" | maksudnya hati mereka tertutup dari hidayah Allah
  4. ayat ini juga bermakna literal yaitu ditutupnya pandangan musyrik atas kaum beriman | saat kaum musyrik ingin mencelakakan kaum  
  5. sebagaimana kisah dalam Tafsir Ibnu Katsir | tatkala Ummu Jumail (istri Abu Lahab) yang tak melihat Rasul padahal didepan matanya
  6. ayat ini memberikan peringatan pada kita semua agar membuka diri | dan tidak sombong diri terhadap ayat-ayat Allah
  7. bila seseorang menutup diri terhadap Al-Qur'an | maka Allah pun mengunci hatinya dari hidayah Al-Qur'an | naudzubillah
  8. ayat ini juga hiburan Allah pada ahli Al-Qur'an (yang selalu memperhatikan Al-Qur'an) | bahwa Allah selalu menjaga mereka dari bahaya

Penyakit Umat Islam Akhir Jaman

 
Mereka ditindas, diinjak-injak, dibantai dan sebagainya. Bangsa-bangsa dari seluruh dunia walaupun berbeda agama, mereka bersatu untuk melawan dan melumpuhkan kekuatan umat Ummat Nabi Muhammad.

Oleh Angga Pragina (*

Dua ratus juta muslim yang ada di wilayah teritorial Indonesia, sudah jauh lebih dari cukup untuk mengatakan bahwa Islam memiliki cadangan kekuatan yang sangat besar. Dilihat dari kuantitas, muslim Indonesia hampir dua puluh kali lipat dari muslim Filipina, delapan kali lebih banyak daripada Arab Saudi, dan hampir tiga kali lebih banyak daripada Mesir.
Ironisnya, kekuatan besar itu tidak serta merta membawa kita umat Islam Indonesia hidup dalam cita-cita kehidupan Rasulullah. Hampir lima belas abad lalu, beliau dicaci oleh bangsanya sendiri, diasingkan oleh keluarganya sendiri, bahkan diburu untuk dibunuh oleh kaumnya sendiri.

“Akan datang suatu zaman di mana tidak tersisa dari Islam, kecuali tinggal namanya saja, tidak tersisa dari Alquran kecuali tinggal tulisannya saja, masjid-masjid mereka megah dan semarak, tetapi jauh dari petunjuk Allah, ulama- ulama mereka menjadi manusia- manusia paling jahat yang hidup di bawah kolong langit, dari mulut mereka ke luar fitnah dan akan kembali kepada mereka.” (HR Baihaqi)
Beliau lakukan itu semua agar kita, umatnya bisa membedakan antara yang benar dan yang salah, yang haq dan yang bathil, yang halal dan yang haram. Dan ketika berita itu telah sampai kepada kita secara sempurna melalui Al-Qur’an dan Sunnah, kebanyakan dari kita, umat Islam Indonesia malah mengabaikannya dengan mengambil hukum manusia dan meridloinya melebihi keridloan kita terhadap hukum Allah yang dibawa Rasulnya.
Kita bisa berdebat siang dan malam tentang bagaimana bentuk negara Islam yang sesungguhnya, kitapun bisa berkilah bahwa sebagian hukum Indonesia diambil dari hukum Islam. Tapi apakah kita mau mengingkari bahwa demokrasi saat ini adalah sistem barat?
Apakah kita mau mengelak bahwa hukum positif saat ini adalah hukum yang diambil dari hukum kolonial Belanda? Apakah kita juga mau mengingkari bahwa pajak barang-barang haram seperti khamr dan riba telah masuk ke APBN kita dan dijadikan sumber utama untuk menghidupi negara?
Bisa dipahami apabila negara seperti Amerika sangat yakin dengan sistem demokrasi dan semua turunannya sebagai satu-satunya jalan menuju kemakmuran, karena umat Islam disana hanya lima juta jiwa. Akan sangat mudah dimengerti apabila negara seperti Jerman tidak menjadikan Islam sebagai sistem bernegara karena muslim disana hanya tiga juta jiwa.
Tapi Indonesia, dengan dua ratus juta muslim yang menguasai hampir setiap jengkal tanah nusantara meninggalkan Islam sebagai sistem yang menjamin kelancaran seluruh aspek kehidupan dan menjamin kebahagiaan dunia akhirat… Sungguh, kata-kata tidak bisa menggambarkan keadaan ini.
Hanya sebuah hadits yang pernah diucapkan oleh Rasulullah lima belas abad yang lalu:

Sabda Rasulullah:

“Suatu masa nanti, bangsa-bangsa akan memperebutkan kalian seperti orang-orang yang sedang makan yang memperebutkan makanan di atas nampan”.

Kemudian ada sahabat yang bertanya: “Apakah saat itu kita (kaum Muslimin) berjumlah sedikit?”.

Rasulullah Saw menjawab: “Sebaliknya, jumlah kalian saat itu banyak, namun kalian hanyalah bak buih di atas air bah. Dan Allah SWT akan mencabut rasa takut dari dalam diri musuh-musuh kalian terhadap kalian, sementara Dia meletakkan penyakit wahn dalam hati kalian.”

Ada sahabat yang bertanya lagi: “Wahai Rasulullah Saw, apakah Wahn itu?” beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.”

http://www.atjehcyber.net/2013/09/tahukah-anda-penyakit-umat-islam-di.html